Baru 6 bulan beroperasi, Quibi memutuskan untuk menghentikan operasi dan menjual asetnya. Platform streaming asal Amerika Serikat itu memutuskan untuk tidak melanjutkan bisnis mereka.

Baca Juga: ShopeePay Pakai Pengenal Wajah dan Sidik Jari buat Transaksi

Quibi merasa bahwa sungguh sulit bagi pemain kecil sepertinya untuk terjun dalam bisnis streaming video di tengah-tengah pemain besar, seperti Netflix, Prime Video Amazon, Disney+, dan Apple TV+. Apalagi, para pemain besar tersebut sudah memiliki anggaran promosi yang jauh lebih besar daripada Quibi dan koleksi acara yang lebih banyak dan lengkap.

“Dunia telah berubah secara drastis sejak Quibi diluncurkan dan model bisnis mandiri kami tidak dapat dijalankan lagi,” ungkap founder Quibi, Jeffrey Katzenberg, dalam Reuters, Kamis (22/10).

Quibi sendiri ialah platform streaming yang menawarkan layanan video hiburan dan berita berdurasi kurang lebih 10 menit di ponsel. Layanan asal Los Angeles, Amerika Serikat, ini diperuntukkan bagi mereka yang senang bepergian dan membutuhkan hiburan saat dalam perjalanan.

Cukup membayar US$44,99 per bulan (setara dengan Rp73 ribu) dengan iklan atau US$7,99 per bulan (setara dengan Rp117 ribu) tanpa iklan, pengguna bisa menikmati layanan dari Quibi.

“Kegagalan kami bukan karena kurang berusaha; kami telah mempertimbangkan dan menggunakan setiap opsi yang tersedia bagi kami,” tulis Meg Whitman, selaku Chief Executive Quibi, beserta Jeffrey Katzenberg dalam surat pengumuman pada karyawan.

Mereka juga mengatakan bahwa kemungkinan kegagalan tersebut terjadi karena dua alasan; ide bisnis yang kurang kuat atau waktu peluncuran layanan tidak tepat.

“Keadaan peluncuran selama pandemi adalah sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan, tetapi bisnis lain telah menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dan telah menemukan jalan untuk melewatinya. Kami tidak dapat melakukannya,” tutur Katzenberg dan Whitman.

Baca Juga: WhatsApp Rilis Fitur Belanja di Indonesia, Bisnis Jadi Mudah

Quibi, yang didukung oleh berbagai investor termasuk studio Hollywood, rilis pada tanggal 6 April 2020 lalu dengan dana US$1,8 miliar (sekitar Rp26,4 triliun) saat masyarakat diimbau untuk tetap di rumah saja.

Menurut data yang dihimpun oleh SensorTower di aplikasi seluler, pada bulan pertama setelah peluncurannya terdapat 2,6 juta kali penginstalan Quibi. Pihak Quibi sendiri mengklaim jika aplikasinya telah diunduh sebanyak 3,5 juta kali, tetapi jumlah pengguna aktifnya hanya ada 1,3 juta. Angka tersebut pun semakin menurun setelah uji coba gratis berakhir.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *