Peneliti di Universitas Brawijaya (UB) berhasil mendapatkan penghargaan MURI atas pengembangan aplikasinya yang bisa memberikan solusi terhadap keterlambatan penangan pasien yang mengalami serangan jantung.

Aplikasi tersebut dinamakan [De]teksi Jan[t]ung Secara Cep[a]t dan A[k]urat (DETAK) yang merupakan aplikasi berbasis algoritme AI yang dipasang pada smartphone.

“Selain berguna untuk mengurangi keterlambatan pasien mencari pengobatan, DETAK juga berfungsi untuk mengingatkan pasien untuk minum obat dan melakukan kontrol secara teratur,” kata Ketua Peneliti, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP (K),PhD pada 22 November 2020 lalu.

Baca juga: Amazon Rilis Kacamata Pintar dengan Harga Rp 3,5 Jutaan

Keterlambatan penanganan penyakit serangan jantung utamanya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala Sindrom Koroner Akut (SKA).

Dengan menggunakan aplikasi DETAK, pasien akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait nyeri dada yang dialaminya dan kemana pasien harus mencari pertolongan.

Jika ternyata hasilnya pasien mengalami gejala SKA, pasien akan diarahkan ke rumah sakit yang memiliki dokter jantung. Jika keluhan pasien diprediksi kecil kemungkinannya terkena SKA, maka akan diarahkan ke fasilitas kesehatan terdekat meskipun tidak ada dokter jantung.

Aplikasi ini dikembangkan oleh sekelompok peneliti dalam kelompok kajian kardiovaskular Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang telah memulai aktivitasnya sejak 2012 silam.

Baca juga: Paten LG Tentang Laptop yang Dapat Digulung, Untuk Apa ?

Selain pendeteksian penyakit jantung, ada juga alarm pengingat yang akan mengingatkan pasien untuk berobat ke klinik jantung atau faskes dan meminum obat secara rutin.

Fasilitas kesehatan yang ada pada aplikasi DETAK saat ini baru meliputi wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

DETAK akan terus dikembangkan dengan pendataan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk seluruh daerah di Indonesia dengan melakukan kerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Dinas Kesehatan.

(im)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *