Kabar kurang mengenakkan datang dari Disney. Perusahaan tersebut berencana untuk memberhentikan sekitar 32.000 karyawannya, terutama yang bertugas di bisnis taman hiburan, Disneyland. Perusahaan dengan berat hati harus menyampaikan ini, karena terpukul oleh situasi pandemi COVID-19 yang mana sebagian masyarakat tidak lagi mengunjungi Disneyland.

Angka kisaran 32.000 karyawan ini nyatanya meningkat, karena pada September lalu pihak Disney mengutarakan akan memutus hubungan kerja sekitar 28.000 karyawan. Dalam laporan The Verge, diketahui jika PHK ini akan berlangsung pada paruh pertama tahun fiskal 2021 Disney, yang dimulai pada awal Oktober.

Bersamaan dengan pemutusan hubungan kerja, Disney mengatakan sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan seperti mengurangi investasinya dalam film dan konten TV, menghentikan belanja modal, dan memberhentikan lebih banyak karyawan. Menurut laporan Variety, sudah 37.000 karyawan Disney cuti sejak 3 Oktober lalu.

Baca Juga : Disney+ Siap Debut Film Konser ‘Folklore’ Taylor Swift

2020 merupakan tahun yang sulit bagi sejumlah perusahaan, termasuk Disney. Taman hiburan Disneyland, tentunya telah dilanda sepi pengunjung akibat pandemi Virus Corona. Meskipun taman hiburan Florida Disney World-nya dapat dibuka kembali dengan penerapan protokol kesehatan dan batasan pengunjung, tapi Disneyland sendiri telah ditutup sejak Maret 2020. The Wall Street Journal mencatat bahwa masih belum jelas kapan Disneyland yang khususnya ada di California akan dibuka kembali.

Selain masalah taman hiburan, Disney juga dihadapkan dengan sejumlah batalnya acara perilisan produknya, seperti film Mulan. Pembatalan-pembatalan tersebut menyebabkan Disney mengantongi kerugian triwulanan yang jarang terjadi. Pada bulan Agustus 2020, perusahaan melaporkan kerugian sebesar $ 4,72 miliar (lebih dari Rp 57 T). Kemudian, diikuti dengan kerugian selanjutnya sebesar $ 710 juta (lebih dari Rp 10 M) pada kuartal berikutnya.

Terlepas dari tantangan pada bisnis perorangannya, pendapatan perusahaan telah terbantu oleh peluncuran layanan streaming Disney+, yang memiliki 73,7 juta pelanggan pada awal Oktober. Untuk terus memulihkan ekonomi perusahaan, Disney memiliki rencana untuk meluncurkan layanan streaming lain di luar Amerika Serikat pada tahun depan.

Baca Juga : Pembawa Berita AI di Korea Selatan Terlihat Sangat Realistis

(af)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *