Militer Amerika Serikat semakin menunjukkan taringnya dalam hal pengembangan teknologi untuk keperluan kemiliteran. Salah satu yang sedang mereka kembangkan adalah teknologi semacam telepati.

Baca Juga: Microsoft Beri Bayangan Penilaian Rapat Lewat Bahasa Tubuh

Terdapat laporan terbaru yang menyebutkan jika militer Amerika Serikat menggelontorkan anggaran pada riset neurosains untuk menganalisis sinyal otak. Pada akhirnya, teknologi ini memungkinkan antar tentara untuk saling membaca pikiran.

Dikutip dari detikINET dan Futurism pada Senin (30/11), riset ini bertujuan untuk membuat para tentara dapat berkomunikasi hanya dengan pikiran masing-masing. Meskipun untuk mencapai tujuan tersebut jalan yang ditempuh masih cukup jauh, teknologi ini diharapkan akan berguna di medan perang nantinya. 

Sekitar USD6.25 juta dianggarkan oleh The Army Research Office (ARO) untuk keberlangsungan penelitian ini dalam jangka waktu 5 tahun. Studi ini dipimpin oleh akademisi di University of Southern California dan didukung oleh beberapa kampus di Inggris.

Tahap awal penelitian ini yakni berupa pemetaan sinyal-sinyal di otak. Sinyal-sinyal tersebut nantinya bisa dipilah mana yang akan mempengaruhi tindakan atau perilaku manusia. “Dalam riset ini kita tidak hanya mengukur sinyal, tapi juga bagaimana untuk menginterpretasi mereka,” ungkap program manager ARO, Hamid Krim.

Selanjutnya, dilakukan tahapan yang bertujuan agar komputer dapat membaca apa yang ada di pikiran para tentara.  Berikutnya, akan dirancang sebuah teknologi untuk menerjemahkan sinyal  agar tentara di militer Amerika bisa saling berkomunikasi.

“Anda bisa membaca apapun, tapi tidak berarti Anda bisa memahaminya. Maka langkah berikutnya adalah agar bisa memahaminya. Pada akhirnya, itulah tujuan aslinya, membuat komputer bisa berada dalam mode komunikasi penuh dengan otak,” tutur Hamid.

Baca Juga: ESA Akan Lakukan Pembersihan Sampah Luar Angkasa

Perangkat berbasis teknologi mirip telepati ini nantinya bisa dimanfaatkan para tentara di medan perang untuk berkomunikasi dengan diam-diam. Sebagai contoh, jika tentara militer Amerika merasa stres atau lelah, pemimpin pasukan dapat segera memahaminya dan kemudian memutuskan untuk rehat.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *