Indonesia, melalui UK Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS), memperoleh hibah dana untuk riset sebesar 200 ribu poundsterling atau setara Rp3,7 miliar dari pemerintah Inggris melalui Global Challenges Research Fund (GCRF) yang dipimpin oleh Universitas Nottingham

Baca Juga: Siap Produksi, Vaksin COVID-19 Moderna Diklaim Efektif 94,5%

Bagus Muljadi, selaku Koordinator UKICIS, mengatakan jika hibah tersebut akan membantu pihaknya untuk mengatasi tantangan berkaitan dengan adopsi kendaraan listrik (EV) dan pesawat listrik di Indonesia.

“Hibah dari pemerintah Inggris ini untuk membiayai proyek penelitian pertama dari UKICIS bekerja sama dengan UGM dan Universitas Indonesia dimulai awal 2021,” ujar Bagus, sebagaimana dikutip dari Antara dan CNN Indonesia, Selasa (1/12).

Tim UKICIS yang dipilih oleh pemerintah Inggris untuk memperoleh hibah ini diklaim Bagus sebagai bukti bahwa Indonesia menjadi prioritas dibanding negara lain yang menjadi fokus GCRF.

“Dana dari pemerintah Inggris ini diprioritaskan untuk membangun kapasitas industri baterai, kendaraan dan pesawat bertenaga listrik di Indonesia,” tutur Bagus.

Pihak Universitas Nottingham mengatakan dana hibah dari pemerintah Inggris merupakan hasil tindak lanjut dari pertemuan  dengan Kementerian BUMN. Melalui riset kolaborasi UKICIS antara institusi riset terbaik di Inggris dengan Indonesia, Universitas Nottingham ingin membantu membangkitkan industri kendaraan dan pesawat listrik Indonesia.

Proyek ini disetujui untuk didanai oleh Universitas Nottingham dan GCRF mulai awal tahun 2021. Proyek tersebut dapat pula membantu menambah nilai dan mewujudkan potensi Indonesia sebagai penyumbang terbesar di dunia dari bahan baku mineral untuk baterai.

Selain itu, GCRF juga mengucurkan dana bagi universitas di Inggris untuk mengadakan riset bersama negara berkembang. Dana tersebut dikompetisikan lagi di internal masing-masing universitas. Profesor universitas akan mengajukan proposal  riset mereka.

Ke depannya, UKICIS diharapkan dapat membantu diaspora lain dalam hal serupa. Sebagai prasyarat, dana yang diperoleh harus digunakan sepenuhnya untuk kepentingan Indonesia.

Baca Juga: Samsung Biologics Siap Produksi Perawatan Antibodi COVID-19

Selain itu, diaspora lainnya, Profesor Benny Tjahjono, juga memperoleh hibah dari GCRF sebesar 15 ribu poundsterling atau setara dengan Rp2,8 miliar atas nama Universitas Coventry, yang juga merupakan anggota UKICIS.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *