Sejak tahun 2018, raksasa teknologi Apple telah bekerja sama dengan Malala Fund untuk mendukung upaya memberikan pendidikan bagi anak perempuan di seluruh dunia.

Pada Web Summit hari Jumat lalu, wakil presiden Apple untuk lingkungan, kebijakan dan inisiatif sosial, Lisa Jackson, bertemu dengan aktivis dan pemenang Nobel Perdamaian Malala Yousafzai untuk mengumumkan penelitian baru yang dilakukan Malala Fund dengan bantuan Apple: gabungan antara pendidikan untuk perempuan dan perubahan iklim.

Penelitian tersebut direncanakan akan terbit pada bulan Maret, dengan mengamati keberlanjutan dan perlindungan lingkungan dalam kurikulum untuk pendidikan perempuan, dan rekomendasi kebijakan tingkat pemerintah dan komitmen tingkat global.

Yousafzai menggambarkan bagaimana perubahan iklim dan pendidikan untuk perempuan saling terkait dengan menggunakan contoh kampung halamannya di Lembah Swat Pakistan.

Baca juga: Jokowi: 1,2 Juta Vaksin COVID-19 Sinovac Tiba di Indonesia

Yousafzai menyebutkan bagaimana banjir di sana menghancurkan rumah dan sekolah, dan musim kering yang panjang berarti anak-anak perempuan harus berjalan bermil-mil untuk mengambil air untuk keluarga mereka, ketika mereka harusnya berada di sekolah atau mengerjakan PR. Dia juga mengatakan anak perempuan yang pintar berarti planet yang lebih sehat.

“Ketika kita mendidik anak perempuan, memberdayakan mereka, dan memberi mereka pendidikan berkualitas yang mereka butuhkan, itu sebenarnya membantu kita mengatasi perubahan iklim karena ketika anak perempuan dididik, mereka cenderung menjaga jumlah pertumbuhan penduduk,” katanya.

“Mereka lebih mandiri secara ekonomi. Mereka dapat melawan kesulitan yang disebabkan oleh perubahan iklim ini. Mereka lebih tangguh,” tambahnya.

Jackson, yang besar di New Orleans, berbicara tentang bagaimana pengalamannya tinggal di dekat Sungai Mississippi dan dampak Badai Katrina menyadarkannya mengenai masalah lingkungan.

Jackson merupakan Kepala Badan Perlindungan Lingkungan AS pada tahun 2009-2013 di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama. Di Apple, Jackson telah membantu memelopori beberapa prakarsa lingkungan perusahaan, termasuk mendorong gerakan daur ulang dan memperbarui barang elektronik beserta  komponennya.

Jackson mendesak para pemimpin dunia dan pemilik bisnis untuk menyatakan dengan jelas apa yang akan mereka lakukan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan untuk melawan krisis iklim.

“Sekarang saya pikir sudah waktunya untuk menyerukan aksi nyata,” katanya.

Baca juga: Google Diduga Mata-matai Karyawan Secara Ilegal Sebelum PHK

“Bagi saya, itu berarti meminta semua bisnis, termasuk yang ada dalam rantai pasokan kami, untuk menetapkan target agresif pada tahun 2030. Mungkin karbon netral tak bisa dicapai sepenuhnya pada tahun 2030, tetapi bukan berarti para pemilik usaha tak bisa berbuat lebih banyak. Dan kami membutuhkan para bisnis untuk melangkah dan mengatakan apa yang dapat mereka lakukan pada tahun 2030. Ayo lakukan hal tersebut.”

Apple tidak hanya memiliki targetnya sendiri untuk menjadi perusahaan netral karbon pada tahun 2030, tetapi juga ingin semua pelanggannya dapat mengisi ulang daya perangkat mereka dengan energi terbarukan pada tahun 2030, kata Jackson.

“Hal ini bukan sesuatu yang bisa kita lakukan sendirian,” kata Jackson. “Kami telah mensponsori proyek energi bersih di seluruh dunia. Tetapi kami juga ingin bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan bahwa ada lebih banyak akses ke energi bersih untuk seluruh dunia, terutama di bidang yang kurang diinvestasikan dalam hal energi bersih.”

Yousafzai menyebutkan bahwa dia berharap penelitian baru Malala Fund berhasil membawa suara perempuan ke meja pada United Nations Climate Change Conference of the Parties ke-26 (COP26), yang ditetapkan pada November 2021.

“Kami berharap para pemimpin menunjukkan tanggung jawab penuh dan membuat keputusan yang baik untuk melindungi masa depan kita,” kata Yousafzai.

(im)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *