Kabar kurang menyenangkan datang dari Apple. Sebuah perusahaan yang menjadi pemasok utama Apple, Lens Technology, diketahui mempekerjakan secara paksa (forced labor) ribuan pekerja dari Uighur di perusahaannya yang berlokasi di Cina, sebagaimana dilaporkan oleh Tech Transparency Project, dikutip dari The Washington Post.

Baca Juga: Keuntungan Jual Beli Online Menggunakan e-KYC

Katie Paul, direktur dari Tech Transparency Project mengatakan kepada The Washington Post jika temuan adanya praktik kerja paksa dalam rantai suplai (supply chain) Apple tersebut jauh melebihi yang selama ini diketahui oleh perusahaan itu sendiri

Bukti bahwa Lens Technology melakukan praktik kerja paksa telah diketahui oleh khalayak umum, tetapi terlihat tersembunyi padahal nyata adanya, sebagaimana yang dipropagandakan oleh pemerintah kepada media massa. Selama bertahun-tahun, Lens telah memasok kaca untuk iPhone kepada Apple. Perusahaan tersebut juga bermitra dengan Amazon dan Tesla, sebagaimana dilansir dari The Washington Post. 

Laporan tersebut turut merinci berbagai laporan media Cina yang menggambarkan perpindahan pekerja sebagai relokasi yang sukarela, tak jarang dibuat seakan-akan menjadi hal yang positif. 

Dilansir dari Business Insider, pihak Apple tidak memberikan komentar apa pun terkait hal tersebut. Namun, Josh Rosenstock selaku perwakilan dari Apple berkata jika Apple tidak menoleransi kerja paksa, dan pihaknya selalu melakukan assessment untuk melihat apakah ada keterlibatan praktik kerja paksa dalam supply chain

Lebih lanjut, Josh mengatakan jika tiap pelanggaran yang terjadi akan segera dikenai sanksi, termasuk pemutusan kemitraan. 

Apple telah beberapa kali tersandung isu buruh di Cina, yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja dengan beberapa pemasok besar. Sebuah laporan mengejutkan di bulan Maret menyebutkan bahwa Apple memperoleh keuntungan dari praktik kerja paksa terhadap warga Uighur melalui pemasok-pemasok dari Cina. 

Baca Juga: Jepang Dikabarkan Sedang Kembangkan Satelit dari Kayu

Meskipun Apple telah menunjukkan sikap yang memperlihatkan bahwa pihaknya menentang praktik tersebut, perusahaan ini dilaporkan pernah bergabung bersama Coca-Cola dan Nike dalam upaya melobi undang-undang yang melarang perusahaan asal Amerika Serikat untuk bergantung pada praktik kerja paksa di Cina. 

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *