Foto: Jersey’s Best

Teknologi.id – Patah hati. Mungkin semua orang di dunia ini pernah merasakan patah hati. Entah patah hati karena ditinggalkan orang yang ia cintai, maupun patah hati karena tidak bisa mendapatkan hal yang ia dambakan.

Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa patah hati bukanlah sesuatu penyakit yang terkait dengan medis. Namun, tahukah kamu bahwa manusia ternyata bisa meninggal karena patah hati?

Ya, manusia dapat meninggal karena patah hati dan kondisi medis ini disebut Broken Heart Syndrome atau Takatsubo Cardiomyopathy dari bahasa Jepang yang memiliki arti “masalah otot jantung yang terlihat seperti perangkap gurita.”

Dilansir dari Interesting Engineering, pada hari Jumat (19/2), hal ini dijelaskan oleh Justin Cottle dari Institute of Human Anatomy. Justin menjelaskan bahwa kebanyakan pasien yang mengalami sindrom tersebut disebabkan karena merka mengalami trauma emosional. Trauma tersebut antara lain seperti kehilangan orang yang dicintai, mengalami bencana alam, bangkrut, atau kondisi apapun yang menyebabkan seseorang mengalami stres.

Lalu, ketika seseorang mengalami stres seperti itu, maka hormon didalam tubuhnya seperti hormon katekolamin dan adrenalin akan meningkat dan menyebabkan jantung berdetak sangat cepat yang dapat mengakibatkan cedera yang fatal. Diketahui, peningkatan adrenalin secara mendadak memang dapat berbahaya bagi jantung.

Baca juga: Rugi Miliaran Rupiah, Korban Seret TikTok Cash ke Polisi

Bagian jantung yang paling berperan dalam sindrom ini adalah bagian apeks (bagian luar jantung yang berada di paling ujung) serta bagian ventrikel kiri jantung.

Saat sindrom ini kambuh, akan keluar semacam balon dari bagian apeks jantung dan bagian ventrikel kiri jantung akan berkontraksi. Dua hal ini terjadi secara bersamaan dan jika dilihat seperti bentuk pot untuk menangkap gurita.

Foto: CardioSecur

Ketika hal tersebut terjadi, ventrikel kiri jantung yang diketahui bertugas untuk memompa oksigen ke seluruh tubuh tidak dapat bekerja secara maksimal. Sehingga, oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh kurang dari jumlah yang seharusnya.

Hal ini akan menyebabkan penderita merasakan dada nyeri dan kesulitan bernafas secara mendadak. Sehingga, ketika medis melakukan pemeriksaan awal, sulit untuk mendeteksi bahwa pasien menderita sindrom ini karena gejalanya yang mirip dengan penyakit jantung lain seperti serangan jantung. Medis baru akan mengetahui bahwa pasien menderita sindrom ini setelah dilakukan pengecekan ECG atau MRI.

Yang terburuk dari semuanya adalah para profesional masih belum mengetahui pasti penyebab terjadinya sindrom ini. Apakah memang hanya disebabkan oleh trauma emosional, bawaan lahir, atau hal lain, semua itu belum dapat dipastikan. Namun, memang kebanyakan kasus disebabkan karena trauma emosional atau stres secara berlebih.

Diketahui pula bahwa wanita lebih berisiko mengidap sindrom ini. Lebih parahnya, wanita yang mengalami menopause lebih berisiko mengidap sindrom ini. Sampai saat ini, para profesional juga belum menemukan penyebab mengapa sindrom ini lebih banyak diidap oleh wanita ketimbang pria.

Namun, dikutip dari Hello Sehat, pada hari Jumat (19/2), kemungkinan sindrom ini dapat terjadi pada wanita menopause dikarenakan saat menopause, terjadi penurunan kadar hormon estrogen dalam pembuluh darah yang menyebabkan penurunan fungsi adrenoreseptor jantung. Hal ini berdampak pada penurunan aktifasi otot jantung.

Baca juga: Pandemi Buat Warnet Ini Berubah Jadi Tambang Bitcoin

Berita baiknya adalah kebanyakan pasien yang mengidap sindrom ini dapat sembuh secara keseluruhan kecuali memiliki penyakit bawaan lain. Hal ini disebabkan karena ventrikel kiri jantung akan kembali menjadi normal setelah pasien beristirahat selama beberapa bulan dan mendapat bantuan medis seperti beta blockers. Jadi, memang sindrom ini dapat menyebabkan kematian, namun kemungkinan untuk dapat sembuh lebih besar.

(st)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *