Foto: Liputan6.com

Teknologi.id – Satelit Satria-1 merupakan satelit yang digunakan Indonesia untuk menyediakan akses internet bagi 150.000 dari 501.112 titik layanan publik yang belum memiliki akses internet.

Fasilitas internet pada 150.000 titik layanan publik tersebut terdiri dari 3.700 fasilitas kesehatan, 93.900 sekolah atau pesantren, 47.900 kantor desa atau kelurahan, dan 4.500 titik layanan publik lainnya.

Dengan total kapasitas transmisi sebesar 150 Gbps, setiap titik yang akan dipancari oleh satelit pemerintah ini, dijanjikan akan mendapatkan kapasitas dengan kecepatan sebesar 1 Mbps.

Proyek satelit Satria-1 diketahui telah lama tertunda akibat pandemi COVID-19. Namun, di tahun 2021 ini, akhirnya proyek satelit Satria- 1 memasuki tahap pemenuhan pembiayaan (financial closing).

Proyek satelit Satria-1 dilakukan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Satelit yang akan menjadi salah satu satelit terbesar di Asia ini akan dikerjakan oleh PT Satelit Nusantara Tiga (SNT). Diketahui, PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) merupakan hasil konsolidasi perusahaan pemenang tender yang terdiri dari PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Dian Semesta Sentosa, dan PT Nusantara Satelit Sejahtera.

Sebanyak dua investor yaitu BPI France dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dari China telah digandeng oleh SNT untuk mengoperasikan satelit Satria-1.

Baca juga: Kominfo Bentuk Komite Etika Berinternet, Apa Tugasnya?

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menjelaskan bahwa capital expenditure proyek ini sebesar $545 juta atau setara dengan Rp 7,68 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari porsi ekuitas sebesar $114 juta atau setara Rp1,61 triliun dan porsi pinjaman sebesar $431 juta atau sekitar Rp 6,07 triliun.

“Pinjaman ini didanai oleh sindikasi BPI France dan didukung oleh Banco Santander, HSBC Continental Europe, dan The Korea Development Bank (KDB). Porsi pinjaman komersial didanai oleh KDB dan bersama dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB),” jelas Johnny secara virtual, Jumat (26/2/2021).

Johnny juga mengatakan bahwa penandatangan dokumen pembiayaan satelit Satria-1 telah dilakukan pada Rabu (24/2) kemarin.

Dengan tersedianya pembiayaan (financial closing) untuk proyek satelit Satria-1 ini, membuktikan bahwa institusi keuangan global percaya kepada pemerintah dan iklim investasi di Indonesia.

Satelit Satria-1 merupakan satelit yang berjenis High Throughput Satellite (HTS). Satelit ini akan dirancang dan diproduksi oleh pabrikan asal Prancis yaitu Thales Alenia Space.  

Untuk peluncurannya, satelit Satria-1 direncanakan akan diterbangkan menggunakan roket Falcon 9 milik perusahaan Elon Musk, SpaceX. Satelit ini akan diterbangkan dari di Cape Canaveral, Florida, AS, pada tahun 2023.

(st)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *