Perusahaan bidang telekomunikasi, Verizon mengumumkan akan menjual dua perusahaan media online yang berada di bawah naungannya, yaitu Yahoo dan AOL senilai US$5 miliar atau setara Rp 72,25 triliun (asumsi Rp 14.450/US$) ke firma pengelola aset asal AS, Apollo Management.

Rencananya, kedua perusahaan ini akan digabungkan dengan nama Yahoo. Apollo Management nantinya akan membayar Verizon senilai US$4,25 miliar. Sisanya berbentuk saham Yahoo sebesar 10%.

Verizon mengakuisisi OAL pada 2015 silam senilai US$4,4 miliar dan dua tahun kemudian Yahoo diakuisisi US$4,5 miliar. Ini berarti nilai akuisisi ini lebih rendah daripada ketika Verizon mencaplok kedua perusahaan.

Baca juga: 4 Smartphone Xiaomi Turun Harga, Mulai dari Rp1,5 Jutaan

Apa alasan yang membuat Verizon menjual keduanya?

Verizon tidak menjelaskan apa alasan menjual kedua perusahaan media online yang sempat populer di era 2000-an itu.

Namun, kabarnya Verizon gagal mengembangkan proyek media online-nya, dan memilih untuk fokus ke bisnis utamanya, yaitu jaringan nirkabel dan bisnis penyedia internet lainnya.

Sebagai informasi, tahun lalu Verizon menjual HuffPost ke BuzzFeed. Baru-baru ini perusahaan jual menjual atau menutup media lainnya seperti Tumblr dan Yahoo Answers.

Sebelumnya, Verizon berniat mengubah aset miliknya seperti Yahoo dan AOL menjadi raksasa media online yang ingin mengalahkan dominasi Google dan Facebook dalam periklanan online.

Baca juga: Cara Dapat Uang dari TikTok Lite dengan Mudah

Di bawah mantan CEO AOL Tim Armstrong, Yahoo dan AOL digabungkan menjadi divisi media online baru di dalam Verizon yang dinamakan Oath. Namun sebagian besar proyek ini besar gagal mendapatkan momentum, dan Tim Armstrong keluar dari perusahaan pada 2018.

Proyek ini kemudian berganti nama menjadi Verizon Media Group pada November 2018 dan dijalankan oleh Guru Gowrappan. Gowrappan akan terus memimpin Yahoo di bawah Apollo.

Penjualan Verizon Media ke Apollo menandai perubahan terbaru dalam perjalanan puluhan tahun untuk AOL dan Yahoo, dua kekuatan paling dominan di masa-masa awal internet konsumen.

(dwk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *